Jangan menanam pohon kurma di Indonesia
                                   (Sebuah Catatan Kecil dari Pengasuh PPWH)
Gambar: Ilustrasi Kitab Ihya Ulumuddin
Secercah kalimat yang disampaikan oleh bapak pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim di kegiatan rutin mengaji sabtu pagi. Hari tersebut selalu menjadi hari yang paling ramai dari hari biasanya. Sebab, kegiatan mengaji sabtu pagi selalu terdapat nasihat-nasihat yang diberikan oleh pengasuh PPWH beliau K. H Jalal Suyuti, S.H, melalui kitab “Ihya Ulummuddin” tidak lain sebagai pembekalan untuk seluruh santri.
Di kesempatan ini, tepatnya (21 Desember 2014), beliau memberikan sebuah nasihat yang amat berharga dalam sebuah perumpamaan, beliau megungkapkan:“Jangan Menanam Pohon Kurma di Indonesia. Menanam pohon kurma di Indonesia memang tetap hidup, namun tidak akan tumbuh sebab iklim. Kita (seluruh warga Wahid Hasyim) harus memperhatikan apa yang kita taman di pesantren, yaitu “Menanam taat atau kebaikan”. Dalam artian, taat atau tunduk disini bukanlah kepatuhan ketika mengahadap kepada ustadz dan Kiyai lantas 10 meter jaraknya sudah tiarap. Namun yang dimaksudkan, walaupun di pesantren ini posisinya sebagai mahasiswa yang mempunyai kebebasan, harus tetap taat pada aturan atau menebarkan kebaikan. Taat atau kebaikan tersebut janganlah dihalangi. Jangan sampai menyengaja menanam iklim yang demikian, karena hal tersebut akan menjadi virus. Perlu diketahui, bahwa virus yang membahayakan itu bukan saja HIV, tetapi virus HATI lebih mengganaskan”.
Beliau juga menuturkan, “Santri saya anggap sebagai pejuang, sebab akan menjadi orang besar. Disinilah santri dituntut, sehingga minimal bisa mangajar. Dan Pesantren Wahid Hasyim berbeda dari lainnya, di mana santri disini harus mempunyai beberapa kecapakan, diantaranya: Berbekal ilmu agama, harus berlatih mental leadership yang mengorganisir dan merefleksikan ide-ide menjadi sebuah gerakan yang dapat dituangkan melalui lembaga-lembaga yang ada”.

Demikianlah, nasihat yang beliau sampaikan. Sangat penting untuk dijadikan bahan renungan bahkan pelajaran. Sekaligus pegangan setiap santri yang dipercaya sebagai pejuang, untuk memberikan jejak-jejak kebaikan dalam setiap jengkal langkah di kehidupan sehari-hari, dengan tetap berpegang pada aturan-aturan, terutama di Yayasan Pondok Peantren PPWH agar tercipta iklim yang baik. (Nur Tanfidiyah)

2 komentar:

  1. Santri itu tangguh, siap, tanggap dan tepat dalam bertindak.

    ReplyDelete

 
Top